Rabu, Oktober 21, 2009

International Youth Conference 2009 : Wujud Kepedulian Pemuda Demi Perdamaian Dunia

Pada tanggal 28 September 2009 – 2 Oktober 2009 lalu, tiga mahasiswa IPB mengikuti sebuah konferensi yang diadakan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia bekerja sama dengan UNESCO bertajuk International Youth Conference 2009. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Titis Anugraheni Putri Apdini mahasiswi Fakultas Peternakan, Hidayat Syarifuddin mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia, dan Khalid bin Abdallah mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Perikanan.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dauld. Hadir pula Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo yang ikut berdiskusi dengan para peserta konferensi seputar peranan pendidikan dalam menciptakan perdamaian dunia.

Tema kegiatan ini adalah “The Role of Youth to Establish Peace, Toward a Future World without Violent Radicalization”. Konferensi ini diadakan dengan tujuan untuk mengumpulkan para pemuda dari berbagai belahan dunia guna menyamakan persepsi tentang arti perdamaian dan memberikan ide segar dalam membangun dunia tanpa kekerasan. Pada hari pertama konferensi, terdapat empat sesi pleno yang masing-masing membahas peranan sektor Pendidikan, Seni dan Olahraga, Informasi Teknologi, dan Pengembangan Masyarakat dalam menciptakan perdamaian. Setelah plenary sessions, hari kedua konferensi diisi dengan Working Group Discussion (WGD) yang dibagi menjadi empat grup. Masing-masing grup membahas peranan setiap sektor dalam menciptakan perdamaian lebih dalam lagi kemudian merumuskan suatu rekomendasi yang dideklarasikan sebagai suatu proposal rekomendasi bagi UNESCO dalam menjalankan misinya untuk mendorong terciptanya perdamaian.


Rekomendasi ini akan dibawa oleh Mr. Russell-Rivoallan sebagai perwakilan dari Strategic Planning of UNESCO untuk disuarakan dalam Konferensi UNESCO yang diadakan di Paris pada tanggal 2 Oktober 2009, konferensi inilah yang juga mengesahkan batik sebagai warisan leluhur asli Indonesia. [mahasiswa IPB]

Rabu, Maret 04, 2009

Perubahan Jadwal OSN 2009

Dalam pertemuan persiapan TOT pembina Olimpiade Provinsi yang dilakukan di Cisarua tgl 25 - 27 Februari 2009, Direktorat Pembinaan SMA Depdiknas mengumumkan tentang jadwal OSN 2009 terbaru :

- Tingkat Kab/Kota (OSK) : Pertengahan April 2009

- Tingkat Propinsi (OSP) : Pertengahan Juni 2009

- Tingkat Nasional (OSN) : 3 - 9 Agustus 2009 di Jakarta

Kegiatan TOT Pembina Olimpiade Provinsi sendiri akan dilaksanakan pada tgl 3 - 6 Maret 2009 di Bandung

Pembina Olimpiade Provinsi akan membantu Pembina Pusat dalam hal pembinaan baik guru maupun siswa agar siap mengikuti seleksi dari tingkat kab/kota hingga OSN

Sumber : www.tofi.or.id

Senin, Februari 23, 2009

Jadwal seleksi OSN 2009

Jadwal seleksi OSN 2009

Kamis (29/1'09), diadakan pertemuan antara Direktorat Pembinaan SMA dengan seluruh pembina olimpiade untuk membahas kegiatan OSN 2009. Rapat dipimpin oleh Bp. Dr. Sungkowo Mujiamanu selaku Direktur yang menghasilkan keputusan tentang jadwal kegiatan seleksi mulai dari tingkat kab/kota, provinsi dan nasional sebagai berikut :
Seleksi tingkat kab/kota : 23 - 25 Maret 2009
Seleksi tingkat provinsi : 9 - 10 Juni 2009
OSN : September 2009
Dalam rangka memperbaiki kemampuan siswa yang akan mengikuti seleksi, Direktorat memprakarsai kembali adanya jaringan olimpiade (Perguruan tinggi negeri yang memiliki fakultas MIPA di seluruh Indonesia) agar menjadi kepanjangan tangan pembina pusat. Telah diadakan sarasehan tentang kegiatan tersebut pada November 2008 di Yogyakarta. Implementasinya segera dilaksanakan work-shop calon pembina provinsi pada bulan Februari atau Maret mendatang.
Untuk tahun 2009 ini ditargetkan terbentuk tim pembina provinsi yang terdiri dari perguruan tinggi + dinas pendidikan + Direktorat PMPTK yang akan bertugas membina siswa yang lolos seleksi kab/kota sehingga benar-benar siap menghadapi seleksi tingkat provinsi dan akan dilanjutkan pada pembinaan persiapan OSN.
Dengan kebijakan ini, diharapkan para siswa yang terpilih adalah benar-benar siswa yang sudah siap baik mental maupun kemampuan akademis yang dibutuhkan untuk mengikuti olimpiade tingkat Internasional sehingga lebih memudahkan pembina pusat dalam menyiapkan tim dengan target medali emas yang lebih pasti dan kontinyu seperti halnya tim China.
Sesungguhnya memang keadaan pendidikan di Indonesia belum merata, sehingga mutiara-mutiara bangsa yang ada di daerah belum bermunculan. Ini juga disadari oleh para pendidik di daerah, sehingga pernah muncul gagasan dari mereka bahwa percuma saja mengikut sertakan siswa dalam seleksi olimpiade yang bahan ujinya lebih tinggi dari kurikulum SMA sendiri. Mereka hanya sekedar ikut saja dan tidak pernah sanggup mengalahkan para siswa di daerah yang memiliki fasilitas lengkap. Dengan adanya keinginan untuk menyebarkan pembinaan hingga tingkat kab/kota, semoga masalah yang dihadapi oleh daerah yang minder dengan daerah lain akan terkikis. (webmaster)

Sumber : www.tofi.or.id

2009 International Essay Contest for Young People

2009 International Essay Contest for Young People

Organized by The Goi Peace Foundation and UNESCO
Endorsed by the Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology of Japan
Japan Broadcasting Corporation, Nikkei Inc., Tokyo Metropolitan Board of Education
Supported by Japan Airlines

The United Nations has designated 2001-2010 as the "International Decade for a Culture of Peace and Non-Violence for the Children of the World" and 2005-2014 as the "United Nations Decade of Education for Sustainable Development." Not only should young people benefit from these global initiatives, but they should be empowered to play a leading role in them. The theme of this year's International Essay Contest is "The role of science in building a better world." Young people from around the world are invited to submit their innovative ideas on this theme.

Theme:
"The role of science in building a better world"
Scientific progress has brought many benefits to humanity, while some applications of science have had adverse impacts. What kind of science and technology do you think is needed for realizing a more equitable, prosperous and sustainable world for all? Please express your vision for the future of science, including examples of studies or researches you wish to engage in.

Guidelines:
Essays may be submitted by anyone up to 25 years old (as of June 30, 2009) in one of the following age categories:
Children (ages up to 14)
Youth (ages 15 - 25)
Essays must be 800 words or less, typed or printed in English, French, Spanish or German.
Essays must have a cover page indicating (1) category (Children or Youth) (2) essay title(3) your name (4) postal address (5) phone number (6) e-mail address (7) nationality (8) age as of June 30, 2009 (9) sex (10) school name (if applicable) (11) word count.
Teachers and youth directors may submit a collection of essays from their class or group. Please enclose a list of participants' names and the name and contact information of the submitting teacher or director.
(Entries missing any of the above information will not be considered.)
Entries may be submitted by postal mail or e-mail.
(Email entries must be in text or MS Word format, with the cover page and essay sent together as one document.)
Essays must be original and unpublished.
Essays must be written by one person. Co-authored essays are not accepted.
Copyright of the essays entered will be assigned to the organizers.

Deadline:
Entries must be received by June 30, 2009.

Awards:
The following awards will be given in the Children’s category and Youth category respectively:
1st Prize : Certificate and prize of 100,000 Yen
(approx. US$1,000) ... 1 entrant
2nd Prize : Certificate and prize of 50,000 Yen
(approx. US$500) ... 2 entrants
3rd Prize : Certificate and gift ... 5 entrants
Honorable Mention : Certificate and gift ... 25 entrants

* 1st prize winners will be invited to the award ceremony in Tokyo, Japan scheduled for November 2009. (Travel expenses will be covered by the organizers.)
** All prize winners will be announced in November 2009 on the Goi Peace Foundation web site (www.goipeace.or.jp) and UNESCO web site (www.unesco.org/youth).

Please send your entries to:
International Essay Contest c/o The Goi Peace Foundation
1-4-5 Hirakawacho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-0093 Japan
E-mail : essay@goipeace.or.jp

Kamis, Februari 12, 2009

APLIKASI PENDIDIKAN HOLISTIK DALAM INTEGRATED LEARNING

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai (Depdiknas, 2005).

Pendidikan holistik menurut Jeremy Henzell-Thomas diacu dalam Latifah (2008) merupakan suatu upaya membangun secara utuh dan seimbang pada setiap murid dalam seluruh aspek pembelajaran, yang mencakup spiritual, moral, imajinatif, intelektual, budaya, estetika, emosi dan fisik yang mengarahkan seluruh aspek-aspek tersebut ke arah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan didunia.

Pendidikan Holistik merupakan suatu respon yang bijaksana atas ekologi, budaya, dan tantangan moral pada abad ini, yang bertujuan untuk mendorong para kaum muda sebagai generasi penerus untuk dapat hidup dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam suatu masyarakat yang saling pengertian dan secara berkelanjutan serta ikut berperan dalam pembangunan masyarakat. Pendidikan holistik berkembang sekitar tahun 1960-1970 sebagai akibat dari keprihatinan tewrhadap krisis ekologis, dampak nuklir, polusi kimia, dan radiasi, kehancuran keluarga, hilangnya masyarakat tradisional, hancurnya nilai-nilai tradisional serta institusinya.

Pada saat ini banyak model pendidikan yang berdasarkan pandangan abad ke 19 yang menekankan pada reductionism (belajar terkotak-kotak), linier thinking (bukan sistem) dan positivism (fisik yang utama), yang membuat siswa sulit untuk memahami meaning relevance dan value antara yang dipelajari disekolah dengan kehidupannya. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang terpusat pada anak yang dibangun berdasarkan asumsi connectedness, wholeness dan being fully human.

Untuk mencapai tujuan pendidikan holistik, maka kurikulum yang dirancang juga harus diarahkan untuk mencapai tujuan pembentukan manusia holistik. Termasuk di dalamnya membentuk anak menjadi pembelajar sejati, yang senantiasa berpikir holistik, bahwa segala sesuatu adalah saling terkait atau berhubungan. Beberapa pendekatan pembelajaran yang dianggap efektif untuk menjadikan manusia pembelajar sejati diantaranya adalah pendekatan siswa belajar aktif, pendekatan yang merangsang daya minat anak atau rasa keingintahuan anak, pendekatan belajar bersama dalam kelompok, kurikulum terintegrasi, dan lain-lain (Megawangi et.al, 2005).

Pendidikan holistik dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran dengan beberapa cara, diantaranya dengan menerapkan Integrated Learning atau pembelajaran terintergrasi/ terpadu, yaitu suatu pembelajaran yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Inti pembelajaran ini adalah agar siswa memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi lainnya, antara saru mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Dari integrated learning inilah muncul istilah integrated curriculum (kurikulum terintegrasi/terpadu). Karakteristik kurikulum terintegrasi menurut Lake dalam Megawangi, et.al (2005) antara lain : Adanya keterkaitan antar mata pelajaran dengan tema sebagai pusat keterkaitan, menekankan pada aktivitas kongkret atau nyata, memberikan peluang bagi siswa untuk bekerja dalam kelompok. Selain memberikan pengalaman untuk memandang sesuatu dalam perspektif keseluruhan, juga memberikan motivasi kepada siswa untuk bertanya dan mengetahui lebih lanjut mengenai materi yang dipelajarinya.

Integrated curriculum atau sering dikenal dengan istilah interdisciplinary teaching, thematically teaching dan synergetic teaching member kesempatan kepada siswa untuk belajar melihat keterkaitan antar mata pelajaran dalam hubungan yang berarti dan kontekstual bagi kehidupan nyata. Sebagai contoh terdapat dalam kurikulum dengan tema kendaraan yang memiliki keterjalaan sebagai berikut :

Kurikulum terintegrasi dalam pendidikan holistik membuat siswa belajar sesuai dengan gambaran yang sesungguhnya, hal ini karena kurikulum terintegrasi mengajarkan keterkaitan akan segala sesuatu sehingga terbiasa memandang segala sesuatu dalam gambaran yang utuh. Kurikulum terintegrasi dapat memberikan peluang kepada siswa untuk menarik kesimpulan dari berbagai sumber infomasi berbeda mengenai suatu tema, serta dapat memecahkan masalah dengan memperhatikan faktor- faktor berbeda (ditinjau dari berbagai aspek). Selain itu dengan kurikulum terintegrasi, proses belajar menjadi relevan dan kontekstual sehingga berarti bagi siswa dan membuat siswa dapat berpartsipasi aktif sehingga seluruh dimensi manusia terlibat aktif (fisik, social, emosi, akademik).

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005 – 2009. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Latifah, M.2008 Pendidikan Holistik. Bahan Kuliah (tidak dipublikasikan). Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Megawangi, R., Melly L., Wahyu F.D. 2005. Pendidikan Holistik. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation