PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA

Pendahuluan
Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat yang mempunyai tujuan tertentu. Dalam pencapaian tujuan tersebut diperlukan adanya pembagian peran dan fungsi dari anggotanya. Salah satu tugas yang harus diemban dari anggota keluarga adalah pengambilan keputusan. Di dalam kehidupan keluarga sehari- hari, pengambilan keputusan sering dilakukan. Biasanya proses pengambilan keputusan ini bisa dilakukan secara singkat ataupun mengambil waktu yang lama tergantung pada keputusan yang apa yang akan diambil. Jika keputusan yang akan diambil mempunyai resiko yang tinggi dan memerlukan sumberdaya yang besar, maka proses pengambilan keputusan akan berlangsung lama, untuk menghindari rasa sesal kemudian.
Proses pengambilan keputusan diperlukan dalam proses manajemen sumberdaya keluarga, agar proses manajemen dapat menghasilkan keluaran yang memuaskan. Pengambilan keputusan mengandung makna suatu proses dalam memilih dan menetapkan alternative yang tepat untuk suatu tindakan yang diinginkan dan akan mendasari semua fungsi manajemen. Walaupun sering dilakukan oleh keluarga dalam melangsungkan fungsinya dan dianggap biasa, tetapi dalam menetapkan pilihan merupakan suatu hal yang sulit.
Deacon dan Firebough (1988) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses yang mendasari semua proses manajemen sumberdaya keluarga. Hal ini berarti bahwa selama proses manajemen sumberdaya berlangsung, maka proses pengambilan keputusan juga terjadi. Pengambilan keputusan dalam keluarga oleh individu kadang merupakan suatu hal yang kompleks, tidak saja mempertimbangkan hal yang sifatnya rasional tetapi juga aspek psikologis, sosial budaya, dan lain-lain.
Salah satu kegiatan proses pengambilan keputusan dalam keluarga adalah keputusan dalam bidang pendidikan, khususnya keputusan dalam menentukan sekolah atau lembaga pendidikan bagi anak. Proses pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan ini seringkali membuat orangtua kebingungan, terlebih bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar, yang menuntut orangtua lebih jeli dalam menentukan keputusan. Mengingat pentingnya proses ini, maka perlu dipersiapkan dengan baik, agar keputusan yang diambil sesuai dengan yang tujuan yang diharapkan, yaitu terbentuknya anak- anak berkualitas.

Proses Pengambilan Keputusan Pendidikan Anak Dalam Keluarga
Proses pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan anak tergolong poses pengambilan yang memerlukan pemikiran lebih dan rasional serta proses yang lama. Proses pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan anak dilakukan untuk mencapai tujuan, yaitu terbentuknya putra- putri yang berkualitas dan berkarakter, namun ada juga yang mempunyai tujuan agar anaknya kelak dapat hidup layak dan berpenghasilan tinggi dengan modal pendidikan yang dimiliki. Dengan tujuan tersebut tentunya orangtua tidak akan sembarangan dalam memutuskan. Orantua pasti akan berusaha keras, agar putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang layak.
Beberapa hal yang sering menjadi pertimbangan orangtua dalam memilih sekolah atau lembaga pendidikan antara lain :
1. Lokasi sekolah yang cukup strategis, relatif dekat dengan rumah dan lokasi sekolahnya cukup nyaman untuk kegiatan belajar. Apabila sekolah terlalu jauh akan mengakibatkan anak cenderung terlalu capek di jalan dan mengurangi minat belajarnya. Sedangkan apabila lokasi sekolahnya terlalu bising, sedikit banyak akan mengganggu konsentrasi anak-anak saat menerima pelajaran.
2. Sekolah tersebut cukup memiliki fasilitas yang cukup memadai artinya sekolah tersebut cukup mempunyai sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar. Paling tidak memiliki ruang kelas yang bersih dan teratur, lapangan olah raga untuk kegiatan di outdoor, hall untuk olah raga indoor, fasilitas perpustakaan serta Lab komputer, fasilitas beribadah yang memadai serta toilet yang terjaga bersih. Jika sekolah kurang luas dan kurang nyaman, tentunya anak anak kurang leluasa beraktifitas.
3. Segi keamanan sekolah yang cukup bagus artinya pihak sekolah senantiasa memonitor siapa saja yang bisa keluar masuk sekolah tersebut.
4. Sekolah memiliki kurikulum, kepala sekolah dan guru-guru yang cukup berkualitas , yang bisa memberi rasa nyaman saat belajar , rasa senang terhadap mata pelajaran , memperhatikan dan tanggap atas karakteristik masing-masing anak didiknya. Sehingga anak-anak terpacu untuk lebih kreatif, berani bereksperimen serta lebih percaya diri.
5. Anak menyukai calon sekolahnya tersebut karena merekalah yang nantinya akan menjalani proses pendidikan tersebut.
6. Dan yang terakhir tetapi cukup penting dalam pengambilan keputusan adalah mengenai berapa besar biaya untuk bersekolah ditempat tersebut. Selain uang pangkal dan SPP, apakah setiap bulannya akan ada tambahan biaya -biaya lain, additional charges untuk ekstra kulikuler, outbound atau kegiatan yang lain.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup serta alternatif, maka orangtua akan menentukan alternatif yang tepat, yang cocok untuk putra-putrinya serta sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Perkembangan zaman juga ikut mempengaruhi proses pengambilan keputusan pendidikan anak. Akhir – akhir ini sistem pendidikan home schooling juga menjadi pilihan sebagian orangtua.
Model pengambilan keputusan atau strategi dalam memilih alternatif yang cocok untuk digunakan yang umumnya dilakukan dalam menentukan sekolah atau pendidikan anak adalah strategi optimasi, yaitu mengambil keputusan yang memberi keuntungan yang tinggi sesuai dengan situasi atau keadaan pemilikan informasi, atau keputusan yang “terbaik” dengan mempertimbangkan dan menilai keuntungan dan kerugiannya.
Adapun tipe pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan ini beraneka ragam. Ada keluarga yang mendiskusikan hal ini dengan putra-putrinya, namun ada pula proses pengambilan keputusan dilakukan secara dominan oleh orangtua, bahkan perkembangan akhir- akhir ini tidak jarang orangtua memaksa anak untuk belajar di suatu lembaga pendidikan, sehingga justru mempengaruhi perkembangan mental anak.

Tidak ada komentar: